A Tumblelog of Yosua Hernandez.
I'm an expert on reblog-ing.


Photo

Jul 6, 2014
@ 4:00 pm
Permalink
65 notes

beningtirta:


Kepada wisudawan wisudawati ITB, rakyat menunggumu, jadilah solusi bagi Indonesia.

Buat semua yang sudah resmi naik kelas intelektual :)

beningtirta:

Kepada wisudawan wisudawati ITB, rakyat menunggumu, jadilah solusi bagi Indonesia.

Buat semua yang sudah resmi naik kelas intelektual :)

(Source: partikelpiksel)


Text

Jul 4, 2014
@ 10:27 am
Permalink

Mengejar Sarjana (bag.3)

Saya akhirnya ujian skripsi, more closer to Sarjana!

Di foto bisa senyum lebar (sebelum disidang), padahal dalam hati kacau, mengira-ngira apa yang bakal terjadi. Hahaha.

============

Pas sidang. Berjalan lancar, tidak setegang yang dikira. And I felt I’m the luckiest guy that day! Keluar luar sidang, dengan senyum lebar, walaupun harap-harap cemas dengan hasilnya :) Kekhawatiran selama 2 hari sebelumnya bakal nangis di hari H, sejauh ini tidak terjadi.

============

Selagi nunggu penguman hasil ujian, saya merasa jadi selebriti sehari, yang lain pada minta foto. Hahaha. Senyum tapi masih harap-harap cemas. Dan salah satu penguji saya, pas berpas-pasan dengan saya bilang gini: “Siap-siap sapu tangan, Jo!” waduh.

============

Pas penguman hasil ujian. Jeng.. jeng.. Nama saya terakhir disebut terahir and… I got A, man! YAY! Alhamdulillah! Lengkap sudah, perjuangan!

============

Setelah perhelatan ujian skripsi berakhir, sayanya masih jadi selebriti, ini salah satu yang diposting oleh fan. Hehehe.


Text

Jul 4, 2014
@ 9:44 am
Permalink

Mengejar Sarjana (bag.2)

H-2 (Senin, 16 Juni 2014)

Sore hari itu, saya bersama teman-teman memutuskan hal yang agak gila bagi mahasiswa tingat akhir yang sudah berusia lanjut. Kami bermain batu tujuh di kampus! Yep. Batu tujuh itu permainan seperti petak umpet (hide and seek), tapi yang jaga itu menjaga tujuh batu yang disusun bertumpuk. Nah, bagi seorang yang jaga harus mencari yang sedang bersembunyi, kalau misalnya si sembunyi menjatuhkan batu yang dijaga, si jaga harus menyusun lagi dan si sembunyi boleh sembunyi lagi.

Yep, ini permainan zaman-zaman kami sekolah dasar dulu. Haha. Merasa aneh sih, udah pada gede-gede (bahkan mungkin sudah cocok punya anak), malah main yang kekanak-kanakan. Tapi, happy sih, hitung-hitung olahraga sore.

Sore itu emang sepertinya happy sekali, ketawa sepuas-puasnya ketawa, sampai perut kram dan air mata keluar. Dan saya juga khawatir pas hari H malah nangis. Haha.

H-1 (Selasa, 17 Juni 2014)

Seperti biasa, ke kampus, do nothing, cuma ngumpul dengan teman-teman yang lain. ketawa-ketawa sampai sore. Dan saya masih khawatir pas hari H malah nangis. Haha.

Hari H (Rabu, 18 Juni 2014)

Yep. Ini harinya. Saya ujian skripsi.


Photo

Jun 30, 2014
@ 8:11 pm
Permalink

Bersama fans setelah seminar hasil penelitian (3 Juni 2014)

Bersama fans setelah seminar hasil penelitian (3 Juni 2014)


Photoset

Jun 30, 2014
@ 6:08 pm
Permalink
341,156 notes

adindasukma:

shadicasper:

#BreakingStereotypes

On the way to #BreakingStreotypes!!! Bismillah :))

(via rzulkarnain)


Quote

Jun 30, 2014
@ 6:07 pm
Permalink

Aku masuki hatimu, melalui jendela itu. Karena pintunya, izin ku tak punya. Aku bukan pencuri, hanya ingin buktikan diri.

— Saya


Text

Jun 30, 2014
@ 6:03 pm
Permalink

Mengejar Sarjana (bag.1)

Skripsi vs Fiksi

Selama bertungkus lumus dengan skripsi beberapa bulan ini, saya juga menghabiskan beberapa fiksi, sebagai hiburan, menyegarkan (F5) pikiran. Hehe.

Sedikit saya review fiksi tersebut. Untuk yang pertama, yang berwarna merah jambu (tengah), judulnya Waktu Pesta Bersama Cinta. Antologi dari 4 penulis, yaitu Intan Kirana, Hendri Yulius, Rizal Iwan dan Agrita Widiasari. Ada 12 belas cerita pendek, yang menurut saya, benar-benar apik. Cerita-ceritanya sederhana, tapi cara masing-masing pengarang bercerita sungguh tidak sederhana. Salah satu contoh, cerita berjudul “Singgah” karya Agrita Widiasari, yang memakai sudut pandang janin dalam kandungan serta ibunya secara bergantian sebagai pencerita. Dari saya pribadi, antologi ini benar-benar recommended! Siap-saip untuk takjub.

Selanjutnya, yang kedua, yang berjudul Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa karangan Maggie Tiojakin. Nah, ini seperti di sampulnya tertulis: kumpulan cerita absurd. Ya, cerita-cerita cukup aneh! Bagi yang mau tersesat dalam ceritanya, silahkan beli buku ini! Kalau menurut saya, cerita-cerita tanpa klimaks. Awal sampai tiga perempat cerita, kita merasa cerita menuju klimaks, eh nggak taunya nanggung, sama sekali nggak klimaks. Tapi seru juga kok masing-masing ceritanya, kadang bikin kita mikir apa maknanya, dan juga kadang bikin kening berkerut mau emosi. Sampulnya saya suka, bahkan karena sampulnya ini saya pikir ini fiksi terjemahan, eh, ternyata penulisnya asli Indonesia.

Ketiga, novelet dengan judul Jendela karya tiga penulis, Joe Andrianus, Rizal Iwan dan Dodi Prananda. Ada 3 cerita pendek yang agak panjang (nah loh?) di dalamnya, masing-masing punya cerita yang benar-benar berbeda, tidak saling berkaitan. Favorit saya cerita yang berjudul “Ambang Jendela” karangan Rizal Iwan. Awalnya emang agak bosan karena menurut saya ceritanya sangat mudah ditebak, eh sampai pertengahan tebakan saya semua salah dan ternyata ceritanya benar-benar keren! Saya dapat novelet ini dari kuis yang dibuat sama penulisnya di twitter.



Quote

May 17, 2014
@ 7:29 pm
Permalink

Hai, apa kabar malam minggu?